Rabu, 30 Mei 2012

Piramida Penduduk



1)    Piramida Penduduk Muda
Piramida ini menggambarkan komposisi pertumbuhan suatu penduduk. Jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian . Misalnya negara India, Brazil, Indonesia.




2)    Piramida Stasioner
Piramida ini menggambarkan penduduk yang tetap (statis), sebab tingkat kematian rendah dan tingkat kelahiran tidak begitu tinggi. Misalnya negara Swedia, Belanda, Skandinavia.


3)    Piramida Penduduk Tua
Piramida ini menggambarkan penurunan tingkat kelahiran yang pesat dan tingkat kematian yang kecil. Apabila angka kelahiran jenis kelamin pria lebih besar, maka suatu negara bisa kekurangan penduduk. Misalnya Inggris, Jerman, Belgia, Perancis.

  
Rasio Ketergantungan
adalah angka yang menunjukan perbandingan jumlah penduduk golongan umur yang  belum produktif dan sudah tidak produktif dengan jumlah penduduk golongan umur produktif kerja.







Pemanasan Global


Apa itu Pemanasan Global ( Global Warming )?
Mungkin anda pernah membayangkan berada di dalam mobil yang tertutup rapat pada siang hari. Sinar matahari dengan leluasa dapat memasuki ruangan mobil melalui kaca mobil, sehingga menyebabkan udara di dalam mobil menjadi lebih panas.  Udara di dalam mobil menghangat, karena panas sinar matahari yang masuk tidak dapat leluasa keluar. Sehingga panas tersebut terperangkap di dalam mobil.
Demikian halnya dengan pemanasan global. Matahari memancarkan radiasinya ke bumi menembus lapisan atmosfer bumi.  Radiasi tersebut akan dipantulkan kembali ke angkasa, namun sebagian gelombang tersebut diserap oleh gas rumah kaca, yaitu CO2, CH4, N2O, HFCs dan SF4 yang berada di atmosfer. Sebagai akibatnya gelombang tersebut terperangkap di dalam atmosfer bumi. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang, sehingga menyebabkan suhu rata-rata di permukaan bumi meningkat.  Peristiwa inilah yang sering disebut dengan pemanasan global.


Apakah Penyebab Pemanasan Global?
Pemanasan global merupakan fenomena global yang disebabkan oleh aktivitas manusia di seluruh dunia, pertambahan populasi penduduk, serta pertumbuhan teknologi dan industri. Oleh karena itu peristiwa ini berdampak global. Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan global terdiri dari:

Konsumsi energi bahan bakar fosil.  Sektor industri merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, sedangkan sektor transportasi menempati posisi kedua. Menurut Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2003), konsumsi energi bahan bakar fosil memakan sebanyak 70% dari total konsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi kedua dengan memakan 10% dari total konsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca.


Indonesia termasuk negara pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan. Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar penggunaan energi per orang di negara maju. Menurut Prof. Emil Salim, USA mengemisikan 20 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1 milyar penduduk, Cina mengemisikan  3 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk, sementara India mengemisikan 1,2 ton CO2/orang dengan jumlah 1 milyar penduduk.
Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang dibuang ke atmosfer dari sektor ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan negara dengan penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros, dalam mengkonsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil, berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca, karena akumulasi banyaknya penduduk.
Sampah. Sampah menghasilkan gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi kota-kota di Indonesia. Menurut Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/hari dan pada tahun 2000 terus meningkat menjadi 1 kg/hari. Dilain pihak jumlah penduduk terus meningkat sehingga, diperkirakan, pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan mencapai 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton/tahun. Dengan demikian, sampah di perkotaan merupakan sektor yang sangat potensial, mempercepat proses terjadinya pemanasan global.
Kerusakan hutan. Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbondioksida (CO2), yang merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen (O2).  Saat ini di Indonesia diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah.  Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001), sekitar 2,2 juta/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal secara besar-besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dengan kerusakan seperti tersebut diatas, tentu saja proses penyerapan karbondioksida tidak dapat optimal.  Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.
Menurut data dari Yayasan Pelangi, pada tahun 1990, emisi gas CO2 yang dilepaskan oleh sektor kehutanan, termasuk perubahan tata guna lahan, mencapai 64 %  dari total emisi CO2 Indonesia yang mencapai 748,61 kiloTon. Pada tahun 1994 terjadi peningkatan emisi karbon menjadi 74%.
Pertanian dan peternakan.  Sektor ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana, pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan sisa-sisa pertanian, serta pembusukan kotoran ternak. Dari sektor ini gas rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana (CH4) dan gas dinitro oksida (N20).  Di Indonesia, sektor pertanian dan peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 8.05 % dari total gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.
Dampak Pemanasan Global
Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan, menempatkan Indonesia dalam kondisi yang rentan menghadapi terjadinya pemanasan global. Sebagai akibat terjadinya pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa :
Pertama, Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan permukaan air laut.  Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan. Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia akan hilang.  Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari masuknya atau merembesnya air laut, serta infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tergenang oleh air laut.

Kedua, Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan.  Perubahan iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta musim kemarau yang panjang. Di beberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara di tempat lain terjadi penurunan curah hujan yang berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam.  Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan.  Kondisi ini akan semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.
Kedua peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada beberapa sektor, yaitu :
Kehutanan.  Terjadinya pergantian beberapa spesies flora dan fauna. Kenaikan suhu akan menjadi faktor penyeleksi alam, dimana spesies yang mampu beradaptasi akan bertahan dan, bahkan kemungkinan akan berkembang biak dengan pesat. Sedangkan spesies yang tidak mampu beradaptasi, akan mengalami kepunahan. Adanya kebakaran hutan yang terjadi merupakan akibat dari peningkatan suhu di sekitar hutan, sehingga menyebabkan rumput-rumput dan ranting yang mengering mudah terbakar. Selain itu, kebakaran hutan menyebabkan punahnya berbagai keanekaragaman hayati.
Perikanan. Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu karang, dan selanjutnya matinya terumbu karang, sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan. Suhu air laut yang meningkat juga memicu terjadinya migrasi ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu secara besar-besaran menuju ke daerah yang lebih dingin.  Peristiwa matinya terumbu karang dan migrasi ikan, secara ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan hasil tangkapan mereka.
Pertanian. Pada umumnya, semua bentuk sistem pertanian sensitif terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Hal tersebut berdampak pada pola pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman, atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga akan terjadi penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan mempengaruhi ketahanan pangan nasional.
Kesehatan.  Dampak pemanasan global pada sektor ini yaitu meningkatkan frekuensi penyakit tropis, misalnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (malaria dan demam berdarah), mewabahnya diare, penyakit kencing tikus atau leptospirasis dan penyakit kulit.  Kenaikan suhu udara akan menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek sehingga nyamuk makin cepat untuk berkembangbiak. Bencana banjir yang melanda akan menyebabkan terkontaminasinya persediaan air bersih sehingga menimbulkan wabah penyakit diare dan penyakit leptospirosis pada masa pasca banjir. Sementara itu, kemarau panjang akan mengakibatkan krisis air bersih sehingga berdampak timbulnya penyakit diare dan penyakit kulit.  Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) juga menjadi ancaman seiring dengan terjadinya kebakaran hutan.
Selain dampak diatas, tercatat beberapa kejadian luar biasa yang mengindikasikan terjadinya pemanasan global, yaitu :
  1. Tahun 2005 merupakan tahun terpanas.  NASA melaporkan bahwa temperatur rata-rata global telah meningkat 0,060 C.
  2. Pencairan Artik terbesar terjadi di tahun 2005.  Hasil foto salah satu satelit   menunjukkan area yang tertutup es permanen merupakan area tersempit pada akhir musim panas tahun 2005.
  3. Tahun 2005 merupakan tahun dengan air di Karibia terpanas, lebih lama dari yang pernah terjadi dan menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) besar-besaran di sepanjang wilayah mulai dari Karibia hingga Florida Keys, Amerika Serikat.
  4. Tahun 2005 tercatat sebagai tahun dengan nama badai terbanyak.  Terdapat 26 nama badai yang melampaui daftar nama resmi. Pada tahun ini juga terdapat sekitar 14 badai, yang disebut sebagai badai hebat (hurricane), karena memiliki kecepatan angin melebihi 119 km/jam.  Rekor tahun sebelumnya hanya 12 badai dalam setahun.  Tahun 2005 juga merupakan tahun dengan kategori 5 badai terbanyak dengan kecepatan angin 249 km/jam. Tahun 2005 merupakan tahun yang mengalami kerugian termahal akibat badai.
  5. Tahun 2005 merupakan tahun terkering yang pernah terjadi sejak beberapa dekade lalu di Amazon, Amerika Selatan. Dan Amerika bagian barat menderita akibat kekeringan yang panjang.
Sumber informasi :
Bumi Makin Panas (booklet).  2004.  Diterbitkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, JICA dan Yayasan Pelangi.
Indonesia dan Perubahan Iklim (booklet). Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia. www.wwf.or.id/climate
Climate Change Scenarios for Indonesia (leaflet). 1999.  Diterbitkan oleh Climatic Research Unit (CRU), UEA, UK dan WWF.
Perilaku Ramah Lingkungan. 2007.  Website WWF Indonesia : www.wwf.or.id

AKPC

Proses Terjadinya Hujan Air,Hujan salju,dan Hujan Buatan


Hujan Air
Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awal terjadinya hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air.Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awal terjadinya hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air.

 
Air-air tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal.
Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.
Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut.Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian ujan dapat menguap kembali ke udara.Bentuk air hujan kecil adalah hampir bulat, sedangkan yang besar lebih ceper seperti burger, dan yang lebih besar lagi berbentuk payung terjun.Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.

Hujan Salju / Es

Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es.yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.
        Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku.Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan.Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.
     Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun.Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan.Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.

HujanBuatan

         Hujan buatan adalah hujan yang dibuat oleh campur tangan manusia dengan membuat hujan dari bibit-bibit awan yang memiliki kandungan air yang cukup, memiliki kecepatan angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot, serta syarat lainnya.Ujan buatan dibuat dengan menaburkan banyak garam khusus yang halus dan dicampur bibit / seeding ke awan agar mempercepat terbentuknya awan jenuh.Untuk menyemai / membentuk hujan deras, biasanya dibutuhkan garam sebanyak 3 ton yang disemai ke awan potensial selama 30 hari.Hujan buatan saja bisa gagal dibuat atau jatuh di tempat yang salah serta memakan biaya yang besar dalam pembuatannya.
      Hujan buatan umumnya diciptakan dengan tujuan untuk membantu daerah yang sangat kering akibat sudah lama tidak turun hujan sehingga dapat mengganggu kehidupan di darat mulai dari sawah kering, gagal panen, sumur kering, sungai / danau kering, tanah retak-retak, kesulitan air bersih, hewan dan tumbuhan pada mati dan lain sebagainya. Dengan adanya hujan buatan diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air makhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat hidup bahagia dan sejahtera.
         Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat menimbulkan bencana pada kehidupan di bawahnya.Banjir dan tanah longsor adalah salah satu akibat dari hujan yang berlebihan.Perubahan iklim di bumi akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak merata sehingga menimbulkan berbagai masalah di bumi.Untuk itu kita sudah semestinya membantu menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak cucu kita kelak tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat ini.





Proses Pembelajaran Geografi

1. Peranan Pengajaran Geografi dalam Pendidikan
Pendidikan nasional yang dilandasi oleh pancasila, dapat pula dikonsepkan sebagai pendidikan pancasila. Karena tujuan pembangunan nasional pada era ini adalah pendidikan yang dirahkan untuk membangun manusia yang membangun diri sendiri dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa, maka pendidikan nasional ini juga dapat dikonsepkan sebagai pendidikan pembangunan.
Pendidikan nasional yang hakikatnya adalah pendidikan pancasila pembangunan dan pendidikan pembangunan pancasila, merupakan proses yang harus ditunjang oleh semua bidang pendidikan dan pengajran di tiap jenjang pendidika formal. Kedalamnya termasuk juga tugas pengajaran geografi merealisasikan tujuan pendidikan itu.
Dalam teori filsafat hukum terdapat istilah das sein dan das sollen. Das Sein berarti keadaan yang sebenarnya pada waktu sekarang, sedangkan das Sollen berarti apa yang dicita-citakan; apa yang harus ada nanti, atau untuk singkatnya arti dari keduanya adalah "yang ada dan yang seharusnya". Keduanya diambil dari bahasa Jerman .
Das Sollen adalah segala sesuatu yang mengharuskan kita untuk berpikir dan bersikap. Contoh : dunia norma, dunia kaidah dsb. Dapat diartikan bahwa das sollen merupakan kaidah dan norma serta kenyataan normatif seperti apa yang seharusnya dilakukan. Das Sein adalah segala sesuatu yang merupakan implementasi dari segala hal yang kejadiannya diatur oleh das sollen dan mogen. Dapat dipahami bahwa das sein merupakan peristiwa konkrit yang terjadi. Das Sein adalah sebuah realita yang telah terjadi sedangkan Das Sollen adalah apa yang sebaiknya dilakukan yaitu sebuah impian dalam dunia utopia yang menjadi keinginan dan harapan setiap manusia sedangkan Das Sollen merupakan realita yang menimpa manusia itu sendiri. Hal inilah yang disebut dengan sebuah harapan dan kenyataan.
Geografi yang semulanya disebut ilmu bumi sebagai pengetahuan diajarkan di perguruan tinggi dengan sebutan geografi akademis dan di sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas dengan sebutan geografi sekolah atau geografi pengajaran. Sebutan ilmu bumi dirasa sekarang kurang tepat; ilmu bumi lebih cocok untuk geologi (dari kata yunani geos dan logos), yaitu suatu pengetahuan alam yang mempelajari bumi seutuhnya, dari kulit luar sampai intinya, tetapi tanpa memperhatikan hubungan bumi secara khusus dengan manusia yang menghuninya.
Pengertian geografi yang sebenarnya adalah uraian (grafien artinya menguraikan atau melukiskan) tentang bumi (geos) dengan segenap isinya, yakni manusia, yang kemudian ditambah lagi dengan dunia hewan dan dunia tumbuhan. Secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa geografi merupakan suatu ilmu mempelajari seluk-beluk permukaan bumi serta hubungan timbal balik antar manusia dan lingkungannnya.
Geografi tidak hanya memiliki kepentingan yang terletak pada sumbangannya yang mendasar bagi lahirnya ilmu-ilmu baru, akan tetapi pada isinya yakni yang menelaah relasi antara manusia dan lingkungan alamnya. Dengan demikian sudah selayaknya bahwa geografi disebut pula ilmu tentang sebaran gejala-gejala alami dan manusiawi di permukaan bumi, atau juga ilmu tentang integrasi wilayah yakni bagaimna wilayah tersusun oleh gejala-gejala fisis dan sosial.
Geografi jika diperiksa sampai bagian-bagiannya akan menimbulkan kesan yang bermacam-macam, sehingga muncul aneka gagasan tentang hakekatnya. Dibawah ini terdapat enam jenis hakekat dari geografi yaitu

The Continuum of Geography
Ritter, ME. The Physical Environment An Introduction to Physical Geography
· Geografi sebagai ilmu pengetahuan bio-fisis, ini berlaku apabila yang dipelajari itu geografi   fisis dan geografi biotis yang mendasri telaah atas seluk-beluk tanah.
· Geografi sebagai relasi timbal balik manusia alam, ini berlaku apabila yang dibahas itu topik-topik dalam geografi social, seperti pengangguran, migrasi kelaparan.
· Geografi sebagai ekologi manusia, disini ditelaah adaptasi manusia terhadap habitatnya dan dan biomenya.
· Geografi sebagai telaah bentang alam (land-sacpe study), disini bidang geomorfologi yang dikupas secara mendalam, misalnya daerah karst, pantai ayng datar, pegunungan lipat.
· Geografi sebagai telaah tentang sebaran gejala alam atau gejala sosial tertentu. Misalnya gunung berapi, tanah gambut dan yang lainnya.

2.  Pembelajaran Geografi yang Ideal (das sollen)
A. Guru Geografi yang Ideal
Tiap-tiap mata pelajaran di sekolah lanjutan membtuhkan guru yang ideal. Adapun syarat untuk menjadi guru geografi yang baik tak hanya terbatas pada pendidikan yang diikuti sebelumnya yang menghasilkan ijazah dan wewenang bagi yang bersangkutan untuk mengajar. Disamping itu masih diperlukan beberapa keistimewaan pada guru itu sendiri untuk dilatih dan dikembangkan lanjut.
Menurut Daljoedni (1982:122) Ada lima tuntutan yang perlu dipenuhi oleh guru geografi yang ideal diantaranya :
· Ia harus mempunyai perhatian yang cukup banyak kepada permasalahan manusia.
· Ia mempunyai kemampuan untuk menemukan sendiri factor-faktor lokastif, pola-pola regional dan relasi keruangan yang terkandung oleh ataupun tersembunyi di belakang gejala-gejal sosial.
· Ia suka dan mampu mengadakan observasi pribadi di lapangan.
· Ia secara sederhana dapat mensintesekan data-data yang berasal dari berbagai sumber.
· Ia mampu membedakan serta memisahkan kausalitas sungguh, dari halhal yang sifatnya hanya kebutuhan belaka.
Apabila lima hal tersebut di atas belum timbul dan dirasakan oleh guru geografi, itu masih dapat dibangkitkan, dibimbing dan disempurnakan. Caranya dengan banyak membaca buku-buku tuntunan pengajaran geografi, membentuk kelompok studi antar guru geografi, memperhatikan wilayahnya sendiri dari segi geografis dengan bantuan dengan bantuan dengan bantuan berbagai dinas dan jawatan setempat. Hanyalah dengan guru geografi yang ideal dapat dijamin pemberian pengajaran yang lebih causal daripada causal, artinya yang lebih berfungsi merelasikan manusia dengan lingkungan daripada ynag sekedar menghafalkan data dan fakta.


B.  Metode mengajar Geografi
Pada proses belajar megajar bidang pendidikan dan bidang pengajran apa pun, metode ceramah menjadi metode dasar yang sukar untuk ditinggalkan. Oleh karena itu, kita harus menerapkan metode “ceramah bervariasi” ataupun multimetode. Dalam memupuk anak didik berani bertanya dan menjawab pertanyaan, metode ceramah tadi dilengkapi oleh metode tanya jawab. Metode ceramah dengan metode tamya jawab pada proses belajar megajar geografi, dapat menghindarkan kejemuan dan kebosanan anak didik mengaikuti ceramah. Metode mengajar yang memberikan keaktifkan lebih jauh kepada anak didik (CBSA) yaitu metode tugas (metode tugas belajar, metode resitasi). Metode ini pada pengajran geografi menjadi sarana memupuk kreativitas, inisiatif, kemandirian, kerjasama atau gotong royong dan meningkatkan minat pada geografi.
Metode mengajar geografi yang membangkitkan motivasi dan kreativitas berpikir serta keterlibatan dalam proses adalah metode diskusi. Keikutsertaan dan keterlibatan anak didik alam proses belajar mengajar geografi pada diskusi ini lebih terjamin. Hanya dalm ini dituntut lebih akurat pengelolaan dan pengorganisasian kelas menciptaklan suasana yang serasi. Metode demonstrasi dan eksperimen, pada batas-batas tertentu dapat diterapkan pada proses belajar megajar gepgrafi. Manfaat metode demonstrasi dan eksp[erimen ini antar lain mengembangkan keterampilan, mengamati gejala geografi secara langsung meskipun dalm bentuk mini dan buatan. Manfaat lain adalah keterlibatan dan keikutsertaan anak didik dalam proses, serta pemanfaatan sumber daya masyarakat dalam pendidikan dan pengajaran. Melalui penerapan metode karyawisata pada proses belajar megajar geografi, dasr mental anak didik yang maliputi dorongan ingin tahu (sense of curiosity) minat (sense of interest), ingin menemukan sendiri gejala-gejala geografi di lapangan (sense of discovery) dapt dibina dan dikembangkan. Tekanan penting pada proses belajar megajar geografi dengan menerapkan metode karyawisata ini adalah dapt disaksikan dan diamatinya gejala atau masalah geografi secara langsung oleh anak didik di lapangan.
Pada batas-batas tertentu, proses belajar megajar geografi dapt menerapkan metode sosiodrama dan bermain peran, metode kerja kelompok. Hanya dalam hal ini, guru geografi harus melakukan seleksi pokok bahasan yang tepat untuk didramatisasikan dan untuk dijadikan kerja kelompok. Berdasarkan uraian yang telah diketengahkan di atas, metode mengajar yang dapat diterapkan pada proses belajar megajar geografi dapat dikelompokan dalam dua kelompok besar, yaitu pertama metode dalam ruangan (ceramah, tanya jawab, diskusi, sosiodrama, dan bermain peran serta kerja kelompok), kedua metode di luar ruangan (metode tugas belajar dan karyawisata).
C. Media Pengajaran Geografi
Pengajaran geografi hakikatnya adalah pengajaran tentang gejala-gejal geografi yang tersebar di permukaan bumi. Untuk memberikan citra tentang penyebaran dan lokasi gejalagejala tadi kepada anak didik, tidak hany diceramahkan, ditanyajwabkan, dan didiskusikan, melainkan harus ditunjukan dan diperagakan.
· Peta merupakan konsep dan hakikat dasar pada geografi dan pengajran geografi. Oleh karena iru, mengajrkan dan mempelajari geografi tanpa peta, tidak akan emmbentuk citra dan konsep pada diri anak didik yang mempelajarinya.
· Citra merupakn gambaran suatu gejala atau objek hasil rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optik, elektrooptik maupun elektronik. Citra merupakan salah satu jenis data hasil penginderaan jauh yang berupa data visual/gambar. Citra sering disebut dengan Image atau Imagery.
· Atlas adalah kumpulan peta dalam bentuk buku. Dalam atlas ini disajikan berbagai peta berdasrkan kenegaraan, gejal alam, penyebaran sumber daya, penyebaran aspek kebudayaan dan sebagainya.
· Globe merupakan model dan bentuk yang sangat mini dari bola bumi. Globe ini selain fungsinya sama dengan peta dan atlas, lebih jauh lagi ia dapt membina dan mengembangkan citra serta konsep tentang waktu, iklim, musim dan gejal-gejala alam lainnya baik yang berkenaan dengan atmosfer, hidrosfer, maupun litosfernya. Dengan demikian, penggunaan dan pemanfaatn globe sebagai media pengajran geografi, dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor anak didik tentang relasi keruangan gejala-gejala geografi di permukaan bumi.
· Gambar dan potret yang berkenaan dengan gejala-gejala geografi, selain diadakan oleh sekolah dan guru, dapat pula pengadaannya ditugaskan kepada anak-anak. Gambar dan potret yang dikumpulkan oleh anak-anak bukan untuk disimpan tanpa pemanfaatannya, tetapi untuk membantu meningkatkan keberhasilan proses belajar megajar geografi.
· Slide, film dan VTR merupakan media pengajaran modern yang membantu, membina citra dan konsep geografi lebih meningkat pada diri anak didik.
· Diagram dan grafik yang dapat mendeskripsikan data kuantitatif gejal-gejala geografi, dapat membantu meningkatkan citra dan konsep geografi yang bersifat matematis-kuantitatif kepada anak didik. Dari citra konsep tadi, mereka akan memahami tentang relasi, interelasi, dan interaksi keruangan gejala-gejala geografi yang dapat menimbulkan ketimpangan dan masalah.
· Media cetak yang berupa surat kabar, majalah dan terutama buku, Media cetak ini menjadi sumber informasi yang memperkaya citra dan konsep geografi pada anak didik. Pemanfaatannya tentu saja menuntut prasyarta tentang kemmapuan dan minat baca serta kemmapuan berbahasa. Oleh karena itu, secara bertahap prasyart ini dipenuhi melalui tugas membaa dari kita guru geografi.

D. Teknik-Strategi Mengajar Geografi
Teknik strategi mengajar adalah cara berusaha dan bertindak yang diarahkan kepada anak didik untuk mencapi tujuab instruksional. Dalam hal ini tekanan tujuan itu dapt diarahkan kepada memmupuk keberanian bertanya, kepada kemampuan konseptual, kepada nilai dan sikap, keterampilan dan kepada pengembangan inkuiri serta berpikir kritis. Dengan demikian, terdapat beberapa hal yang diperlu dikenal dalam teknik-strategi mengajar geografi diantaranya :
· Tata cara bertanya efektif
· Pembinaan konsep dan pengembangan generalisasi
· Penanaman nilai dan sikap
· Pengembangan keterampilan
· Pengembangan inkuiri dan berpikir kritis.

E. Model Pengajaran Geografi
Pengajaran geografi yang mengembangkan materi geografi sesuai dengan hakikatnya, senantiasa menelaah gejala dan masalah geografi dalam konteks keruangannnya. Oleh karena itu, pada proses belajar mengajar geografi selalu harus melihat gejala atau masalah tadi yang kita telaah. Meskipun pada bidang geografi kita memiliki pendekatan keruangan dan pendekatan regional yang khas geografi, kita dapat pula menerapkan pendekatan ekologi yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan pendekatan keruangan ataupun pendekatan regional.
Model pengajaran pada dasarnya berlandaskan hubungan terpadu antara mengajar dan belajar. Mengajar yang merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru, hakikatnya adalah suatu kiat (seni praktis) yang diterpakan guru dalam menciptakan suasana pendidikan yang serasi dalam merealisasikan tujuan. Oleh karena itu, seorang guru yang baik adalah perpaduan antar pekerja lapangan yang praktis-terampil dengan seniman yang mampu menciptakan suasana pendidikan menjadi hidup dan nyaman.
a) Model Pengajaran Disiplin Mental
Pada model pembelajaran ini, penekanan prosesnya berlandaskan kekuatan otak yang meliputi ingatan, kemauan dan penalaran. Model pengajaran ini juga berlandaskan pandangan bahwa kekuatan otak manusia itu juga berpusat pada minat dan nilai yang menyatukan diri manusia dengan lingkungannya. Oleh karena itu, pada pengembangan model pengajran disiplin mental ini latihan ingatan, kemauan dan penalaran untuk menanamkan minat dan nilai menjadi landasan proses utama. Melalui proses ini manusia akan mengerti tentang kebutuhan dan lingkungan yang membimbing kea rah tindakan untuk berhubungan dengan anggota masyarakta lainnya.
b) Model Pengajaran Stimulus-Respon     
Model pengajaran stimulus-respon, berakar dari teori behaviorisme. Dalam teori stimulus-respon (S-R), belajar itu merupakan proses hubungan (koneksi) antara peristiwa atau unit mental dengan peristiwa atau unit fiskal yang membentuk proses stimulus-respon. Model pengajaran stimulus-respon menerapkan teori rangsangan untuk menciptakan situasi belajar membangkitkan reaksi mental-fisikal anak didik dalam mempelajari geografi.
c) Model Pengajaran Kognitif
Pengembangan model pengaran kognitif dilandasi oleh teori belajra kognitif yang paradigmanya berpusat pada interaksi manusia dengan lingkungan psikologis secara serempak. Manusia merupakan subjek yang aktif terhadap lingkungannya dalam mengembnagkan motivasi untuk belajar. Guru geografi berkewajiban menciptakan suasana untuk mendorong subjek anak didik dalam mempelajari geografi bagi peningkatan kemampuan kognitifnya. Dalam model pengajran kognitif, anak didik dikembangkan kemampuan belajarnya dalam bentuk interaksi dengan lingkungan manusia termasuk dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Dengan demikian, model pengajaran kognitif ini serasi dengan pengajaran geografi yang menelaah interaksi keruangan gejala-gejala di permukaan bumi.
d) Model Pengajaran Sintetik
Sesuai dengan tujuan instruksional dan tujuan pendidikan yang harus direalisasikan, tiap model pengajran ada segi penekanan pada matra tujuan tertentu. Oleh karena itu, dalam menerapkan model-model pengajaran tersebut di atas pada pengajaran geografi juga tidak dapat secar mutlak satu model diisolasikan dari model lainnya. Dengan demikian, guru geografi harus mampu menerapkan model pengajaran sintetik yang memadukan ketiga model di atas.

F. Evaluasi Pengajaran Geografi
Evaluasi pada proses belajar mengajar dapat dikatakan sebagai kulminasi kegiatan proses belajr mengajar tersebut. Geografi yang dekat dengan alam terbuka, evaluasinya juga dapat dilakukan di alam terbuka tersebut. Tugas mengamati, mengumpulkan data, dan membuat laporan hasil kerja di lapangan, dapat dijadikan bahan evaluasi pada pengajran geografi.
a) Fungsi Evaluasi Pada Pengajaran Geografi
Evaluasi pada pengajaran geografi fungsinya hampir sama dengan yang berlaku pada pengajaran yang lainnya, yaitu :
· Mengungkapkan penguasaan siswa terhadap materi geografi yang telah diperolehnya dalam proses belajar megajar, termasuk materi pokok dan pengayaannya.
· Menemukan kelmahan-kelemahan materi yang telah disajikan, metode, media, strategi pengajran geografi yang diterapkan, termasuk tujuan yang telah dirumuskan.
· Mengungkapkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya tugas guru dalam proses belajar megajar geografi.
· Mengungkapkan tingkat perkembangan siswa secara individual dalam mempelajari geografi.
b) Tujuan Evaluasi pada Pengajaran Geografi
Tujuan yang ingin dicapai oleh evaluasi pengajaran geografi sebagai hasil proses belajar megajar, sebagai berikut :
· Membuat laporan prestasi siswa berkenaan dengan hasil mempelajari geografi.
· Mendapatkan umpan balik hasil evaluasi proses belajar megajar geografi terhadap keberhasilan kerja guru geografi selam proses belajar megajar itu dilaksanakan.
· Menemukan faktor-faktor pendorong dan penghambat keberhasilan proses belajar megajar geografi, baik yang dialami oleh guru selama mengajar geografi maupun yang dialami para siswa dalam mempelajri geografi tersebut.
· Menyusun program bimbingan individual para siswa yang mengalami kesukaran atau hambatan dalam mempelajari geografi.
· Meningkatkan rangsangan kegiatan belajar para siswa dalam bidang geografi, agar mereka memperoleh makna yang sebesar-besarnya dari proses mempelajari geografi itu.
c) Bentuk Evaluasi pada Pengajaran Geografi
Secara menyeluruh, bentuk evaluasi pada pengajaran geografi meliputi bnetuk tes dan non tes. Bentuk tes itu sebgai berikut :
· Bentuk tes meliputi tes objektif, tes esai dan tes lisan
· Bentuk non tes berupa laporan tugas dan penampilan.
Dengan mengindahkan ketentuan-ketentuan tersebut diatas, dapat diharapakan hasil evaluasi itu mengungkapkan secar memadai dan wajar sesuai dengan hakkat geografi dan pengajran geografi. Dengan demikian, pengajaran geografi itu mampu menunjang tujuanpendidikan nasional.
3. Pembelajarang Geografi yang Ada (das sein)
A. Temuan di Lapangan Implementasi Kompetensi Profesional Guru Geografi
Kompetensi profesional yang hendaknya dikuasai oleh guru sudah tercantum dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, namun dalam implementasinya masih ada beberapa guru yang dapat dikatakan tidak menguasai salah satu atau beberapa kompetensi tersebut. Hal tersebut dapat kita lihat dari kinerja guru pada saat pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
a. Masih ada guru yang tidak menguasai materi pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik.
b. Guru masih beranggapan bahwa penggunaan LCD sebagai alat pembelajaran kurang efektif.
c. Media yang disediakan di sekolah belum dimaksimalkan oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
d. Belum semua guru membuat RPP yang seharusnya digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran.
e. Umumnya para guru masih menyusun KTSP Buku II (silabus, RPP dan LKS) dengan teknik “copy paste”, yang berarti mereka belum menyusun silabus, RPP dan LKS berdasar keperluan dan kondisi mereka sendiri;
f. Meskipun mereka mengaku memiliki RPP, namun ketika proses pembelajaran siswanya diobservasi, semua guru tidak membawa RPP dengan alasan tertinggal di rumah;
g. Dari analisis RPP yang diperoleh ternyata terdapat perbedaan antara apa yang dituliskan dengan apa yang diimplementasikan di kelas. Di RPP guru menuliskan penggunaan pendekatan konstruktivistik, guru berperan selaku fasilitator, namun dari observasi di kelas dapat diketahui bahwa guru lebih dominan, banyak menggunakan ceramah, para siswa pasif, dan guru tidak memahami bagaimana mengimplementasikan pendekatan konstruktiivistik di kelas sebagaimana disarankan kurikulum 2006;
h. Pengelolaan kelas dilakukan secara konvensional sehingga tidak memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa,
i. Dalam melakukan evaluasi/assesmen, umumnya guru menggunakan tes secara tertulis, sehingga tes hanya berorientasi ke ranah kognitif, hanya beberapa guru yang menggunakan rubrik untuk assesmen. Ini berarti bahwa pemahaman guru tentang asesmen hanya pada ranah kognitif, tidak sampai pada ranah afektif dan psikomotor.

B. Hambatan Implementasi Kompetensi Profesional Guru Geografi
Ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan profesionalisme guru, yang antara lain sebagai berikut.
a. Proses penempatan guru yang tidak terarah, tidak adil dan tidak proporsional.
b. Rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik semakin tidak seimbang.
c. Masih ada guru yang memiliki pekerjaan di bidang lain.
d. Menumpuknya guru pada pangkat IV/a.
e. Sikap Konservatif Guru
f. Kurang/Tidak Mengikuti Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

g. Masih banyak guru yang:
· Kurang mampu memanfaatkan komputer dalam pembuatan perangkat pembelajaran,
· Kurangnya kemampuan dalam memanfaatkan penggunaan komputer dalam pengolahan data dan nilai peserta didik,
· kurangnya kemampuan menggunakan komputer untuk pengembangan bahan ajar/bahan   presentasi.
h.Kurang waktu dan kesempatan yang digunakan guru untuk membaca serta mengikuti kemajuan zaman dengan cara memperoleh berbagai informasi dari berbagai sumber seperti membaca buku-buku tentang metodologi pembelajaran, atau hasil-hasil penelitian, mendapatkan informasi dari internet, dsb.
i. Guru tidak memiliki waktu cukup untuk menerapkan metode, pendekatan dan model-model pembelajaran yang disarankan.
j. Jika menghadapi Ujian Nasional, guru cenderung mengadakan drill dan latihan soal-soal ujian.
k. Media dan laboratorium tidak mencukupi/tidak ada.
l. Jam mengajar guru terlalu banyak
m. Rendahnya kualitas Kepala Sekolah
n. Latar belakang siswa (kemampuan rendah, dari keluarga menengah ke bawah, dari desa/daerah terpencil) yang sulit untuk diajak aktif dan kreatif;

4. Kiat mengatasi kesenjangan Das Sollen dan Das Sein
A. Solusi Implementasi Kompetensi Profesional Guru Geografi
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hambatan dalam pengimplementasian kompetensi profesional guru diantaranya adalah:

· Pemangku kepentingan (pemerintah pusat dan daerah) mengkaji ulang kebutuhan riil guru di lapangan.
· Pemangku kepentingan melakukan evaluasi akhir tahun ajaran untuk mengetahui rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik pada setiap satuan pendidikan.
· Terlalu banyak guru di suatu sekolah dapat diatasi dengan melakukan mutasi ke sekolah lain yang kekurangan.
· Pemangku kepentingan hendaknya melakukan kajian yang mendalam dalam pengangkatan jabatan kepala sekolah.
· Guru-guru dapat melakukan class action research (PTK) yang dapat dituangkan sebagai karya tulis berbentuk penelitian.
· Diadakannya seminar tentang pembelajaran yang tepat, yaitu bagaimana cara mengajar agar guru tidak lagi merasa bahwa cara-cara kreatif dianggab memberatkan tugas namun menjadi tugas yang menyenangkan dan yang utama tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai,
· Memfasilitasi para guru dengan alat yang sesuai dengan pendidikan, missal komputer ataupun laptop dengan difasilitasi internet, minimal dalam satu sekolah disediakan satu atau beberapa teknologi tersebut, sehingga guru dapat memperoleh informasi dari teknologi tersebut ataupun dengan berlangganan Koran sehingga berita yang didapat selalu update.
· Menyediakan kelengkapan komputer di sekolah, maka guru dapat lebih mudah dalam melakukan analisis hasil belajar siswa, menghitung nilai kriteria ketuntasan minimum yang selama ini masih tidak berdasarkan perhitungan yang benar, membuat data base siswa dan guru, serta kemudahan-kemudahan lainnya.
· Masalah kurangnya kemampuan guru dalam menggunakan komputer dapat diatasi dengan melakukan pelatihan kepada para guru tersebut.
·  Pemaksimalan pelatihan dalam lembaga pendidikan prajabatan.
· Usaha meningkatkan penguasaan materi.
· Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Pendalaman materi dari guru, oleh guru, dan untuk guru.
5. Keterkaitan dengan SK-KD Pengindraan Jauh
Dalam hal ini yang akan dibahas adalah pembelajaran geografi yang seharusnya diwujudkan atau diajarkan karena pada kenyataannya pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan pembelajaran yang seharusnya. Bab ini akan membahas tentang bagaimana pembelajaran geografi pada materi pemanfaatan pengindraan jauh yang ideal yang diajarkan pada siswa kelas XII Semester pertama. Dalam realita pembelajaran buku referensi yang digunakan sudah sesuai di SMA (buku sekolah terbitan Kemendiknas) sudah sesuai standar buku referensi yang digunakan. Buku-buku tersebut anara lain nuansa geografi tulisan septiani rahayu, eni wiji, dan mariyadi yang diterbitkan PT Widya Duta Grafika 2009; Geografi 3, Jelajah bumi dan alam semesta, tulisan hartanto, terbitan CV Citra Praya 2009; dan Geografi untuk SMA/MA kelas XII, tulisan Nurmala Dewi terbita CV Eplison 2009. Buku-buku tersebut sudah sesuai dengan buku tulisan Sutanto, Pengindraan Jauh, terbitan gajah mada press dalam hal materi pembelajaran. Namun, dalam penyampaian materi PJ tersebut, terkadang masih kurang sesuai dengan pembelajaran ideal yang diterapkan, karena pada umumnya guru ketika menyampaikan materi Pengindraan Jauh hanya dengan pembelajaran yang seadanya, seharusnya dalam penyajian materi Pengindraan Jauh ini, guru bisa menyampaikan materi disertai media yang sesuai, seperti Citra Ikonos, Foto Udara Pankromatik, Citra Landsat, dll, dan cakupan media tersebut adalah wilayah yang dekat dimana materi tersebut diajarkan( wilayah di sekitar sekolah tersebut berada), dengan demikian, siswa akan lebih tertarik untuk mempelajari materi Pengindraan Jauh.
Dalam pembelajaran geografi materi Pengindraan Jauh ini, guru tidak hanya dituntut penyampaiannya dengan metode yang standar, tetapi juga dituntut untuk menggunakan media yang representatif. Guru juga harus berinovasi. Pembelajaran Pengindraan Jauh akan sangat baik jika disampaikan menggunakan deskripsi gambar (citra, foto udara) supaya siswa tidak hanya meraba-raba bagaimana citra ikonos itu, bagaimana Foto udara Pankromatik hitam putih itu, bagaimana citra thermal itu dan media Pengindraan Jauh yang lain dengan tidak kepastian, terapi benar-benar apa dan bagaimana pemanfaatan citra Pengindraan Jauh tersebut. Juga dalam evaluasi pembelajaran harus sesuai, pengindraan jauh tidak hanya bisa dievalusi secara tertulis, tetapi siswa juga diajarai bagaimana pengintepresasian citra tersebut. Karena goal dari SK-KD ini adalah siswa mampu mengintepretasi pengindraan auh dengan baik.

Referensi

-          Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Jilid 1. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
-          Lillesand, Kiefer, Penginderaan jauh dan Interpretasi Citra, Gajah Mada University Press, 1990.
-          Howard, A.John., Pengindraan Jauh untuk Sumberdaya Hutan, Gajah Mada University Press, 1996.
-          Dalhoeni, nathanael, pengantar geografi, 1982
-          http://Sinaugis.wordpress.com
-          http://Gadgethobby.com